Sendratari ‘Babad Fort Willem I’ Siap Digelar, Sebagai Langkah Pemanasan Atmosfir Budaya

 


KAB. SEMARANG - Pertunjukan sejarah bertajuk Sendratari “Babad Fort Willem I” bakal digelar di Area Grha Mandala Cipta - komplek wisata Benteng Fort Willem I Ambarawa, Sabtu (17/01/2026) malam sekitar pukul 19.00 WIB. Pementasan ini dirancang dengan konsep berkelanjutan sebagaimana Sendratari Ramayana Prambanan.

Pementasan ini juga menyajikan  penampilan BDS Congrok, tim musik lokal, serta sejumlah sanggar seni dari Kota Salatiga. Demikian disampaikan Sutradara dari Javayo Production Awig Sudjatmiko kepada awak media, Jumat (16/01/2026).


“Kegiatan ini menjadi ruang apresiasi seni rakyat sekaligus pemanasan atmosfer budaya sebelum pertunjukan utama dimulai. Sendratari “Babad Fort Willem I” ini digarap secara kolaboratif oleh Sanggar Kemrincing Art, Sanggar Nayanika, dan Legato Music serta bekerja sama dengan The Lawu Grup selaku pengelola kawasan Benteng Pendem Ambarawa. Bahkan didukung penuh Sanggar Hanoman Art serta Javayo Production,” ujar Awig S. 


Ditambahkan, sendratari ini mengangkat kisah sejarah gagasan pembangunan Benteng Fort Willem I, perjalanan fungsinya dari masa kolonial hingga dinamika pemanfaatannya saat ini. Kisah tersebut bakal disajikan melalui perpaduan tari, musik, dramatik, dan visual panggung yang kuat, menjadikan sejarah tidak sekadar arsip, melainkan pengalaman estetik yang hidup.


Awig juga menceritakan sekilas Benteng Fort Willem I, bahwa dari Strategi Benteng Stelsel hingga Ruang Budaya Masa Kini

Benteng Fort Willem I merupakan salah satu peninggalan arsitektur militer kolonial Belanda yang dibangun pada paruh pertama abad ke-19, tepatnya sekitar tahun 1834–1845. Pembangunannya tidak dapat dilepaskan dari kebijakan besar Pemerintah Hindia Belanda pasca Perang Jawa (1825–1830) yang dipimpin Pangeran Diponegoro.


“Sebagai respons atas trauma perang tersebut, pemerintah kolonial menerapkan strategi Benteng Stelsel, yakni pembangunan jaringan benteng yang saling terhubung di titik-titik strategis untuk mengontrol wilayah, membatasi ruang gerak perlawanan rakyat, serta mengamankan jalur logistik dan komunikasi. Fort Willem I dibangun sebagai bagian penting dari sistem ini, mengingat posisi Ambarawa yang strategis di jalur penghubung Semarang–Magelang–Yogyakarta serta kedekatannya dengan kawasan rawa dan perlintasan militer,” terangnya.


Pada masa kolonial Belanda, Fort Willem I berfungsi sebagai benteng pertahanan, gudang senjata, barak pasukan, serta pusat logistik militer. Arsitekturnya yang masif, dengan dinding bata tebal, lorong-lorong panjang, dan ruang-ruang berkubah, mencerminkan fungsi militer yang kuat sekaligus menjadi simbol dominasi kekuasaan kolonial atas wilayah pedalaman Jawa Tengah. Memasuki masa pendudukan Jepang (1942–1945), benteng ini mengalami perubahan fungsi. Jepang memanfaatkan Fort Willem I sebagai markas militer dan tempat penahanan, seiring dengan pengambilalihan seluruh aset strategis peninggalan Belanda. 


“Pada masa ini, benteng menjadi saksi bisu praktik militerisme dan penderitaan rakyat, sekaligus bagian dari babak gelap sejarah Perang Asia Timur Raya. Setelah Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia tahun 1945, Fort Willem I kembali memainkan peran penting dalam dinamika sejarah nasional. Kawasan Ambarawa menjadi salah satu titik krusial dalam konflik bersenjata antara Tentara Republik Indonesia dan pasukan Sekutu atau NICA,” ujarnya, lebih lanjut. 


Meski pusat Palagan Ambarawa berada di area sekitarnya, Fort Willem I tetap berada dalam lanskap sejarah perjuangan tersebut, sebagai simbol benteng kolonial yang berada di tengah gelora kemerdekaan dan perlawanan rakyat. Pada periode pasca kemerdekaan hingga Orde Baru, benteng ini sempat difungsikan secara terbatas sebagai barak militer, gudang, dan fasilitas pemerintah, sebelum kemudian mengalami masa keterlantaran. 


“Bergulirnya waktu, minimnya perawatan Banteng Pendem ini menyebabkan sebagian struktur bangunan mengalami kerusakan, menjadikan Benteng Fort Willem I lebih dikenal sebagai bangunan tua misterius. Masuk era kontemporer, Banteng Fort Willem I mulai dipandang kembali sebagai aset cagar budaya. Upaya revitalisasi dan pemanfaatan kawasan dilakukan dengan pendekatan baru yang tidak sekadar melestarikan bangunan fisik, tetapi menghidupkan kembali narasi sejarahnya melalui kegiatan edukatif dan artistik,” tandasnya.


Sendratari “Babad Fort Willem I” yang siap hadir, tidak hanya menceritakan sejarah pembangunan dan fungsi benteng dari masa ke masa, tetapi juga mengajak masyarakat menafsir ulang Fort Willem I sebagai ruang memori kolektif—tempat bertemunya kisah kolonialisme, penderitaan, perjuangan kemerdekaan, hingga harapan baru sebagai pusat aktivitas budaya masa kini. (HERU SANT)

Posting Komentar

0 Komentar