Srita Bhumi Mataram "Makempal Ngagem Batik"
Kamis, Oktober 24, 2019
0
Jogjakarta.Radarnasional.net
Dewan Pengurus Wilayah Srikandi Masyarakat Adat Nusantara"Srita Bhumi Mataram" wilayah DIY dan Jawa Tengah menyelenggarakan acara Gathering Comunity, Talkshow dan Fashion Show, Rabu, 23/10/2019, di Aula Serbaguna Gedung DPD RI DIY, jln kusumanegara, no.133,Yogyakarta.
Ketua DPW sekaligus Ketua Panitia penyelenggara, (R.Ngt.Mawar Dyah Kusumowati) menuturkan bahwa kegiatan ini adalah yang pertama kalinya dilakukan pasca pelantikan pengurus, acara ini juga dalam rangka memperingati hari batik nasional, dengan tujuan untuk memberikan dan mengapresiasikan batik sebagai warisan budaya yang adi luhung. Dan menjalin silaturahmi antar komunitas pecinta seni budaya batik, semoga eksistensi batik selalu diakui oleh lapisan masyarakat, karena batik memiliki nilai filosofi luhur sebagai tuntunan dan pesan moral untuk kehidupan.ujar Dyah Kusumowati.
Turut hadir dalam acara tersebut, penasehat DPW, (GRAY Fita Wiroyudho)., pelidung ( GKRAA,Ir.SM.Anglingkusumo)., dan seluruh anggota komunitas Srita Bhumi Mataram,( DIY, Solo dan Semarang)
Acara tersebut menghadirkan pembicara dari Balai Besar Kerajinan dan Batik DIY, (Syamsudin), kepada media Syamsudin mengatakan mengapresiasi event ini sebagai cara agar ibu-ibu/para wanita mencintai dan melestarikan batik, dan untuk memberikan pemahaman tentang cara berbusana batik dengan benar.
Syamsudin berharap, acara fashion show kedepan perlu menampilkan karya-karya peserta itu sendiri atau mewakili komunitas, dan bisa di kompetisikan.
Menyoroti hal cara berpakaian batik , beliau mengatakan ada kaidah-kaidahnya, semisal bagaimana berpakaian jarik berbeda dengan busana, kalau busana itu bebas saja, tapi kalo sudah berbicara tentang pakaian adat khususnya batik itu perlu disesuaikan dengan pakemnya, tapi kalau sekarang, kita mengikuti perkembangan zaman, hanya di ubet-ubet begitu ya, sah-sah saja, karena batik juga bisa untuk modis.
Tentang minat generasi muda melenial terhadap batik, ungkap Guru dan pengrajin batik ini bahwa, kalau sekarang minat generasi muda terhadap batik cukup baik, karena batik mulai diperkenalkan sejak sekolah dasar dan itu sangat baik, hal ini perlu terus didorong dengan kebijakan pemerintah daerah juga pemerintah pusat, karena batik sudah di akui sebagai warisan budaya Indonesia oleh UNESCO, tinggal bagaimana kita menyambutnya.kata Syamsudin.
Tentang motif batik sangat banyak dan hampir disetiap wilayah atau daerah punya motif batik, seperti di Jawa Timur ada motif batik Trunojoyo, di kulon progo ada motif batik geblek renteng, motif batik parijoto, motif batik kembang kates,dst. Motif batik ini mencerminkan atau dapat menjadi identitas suatu daerah.
Ada dua motif batik yang membedakan, yaitu jenis motif pakem dan ada motif batik pengembangan, motif batik pakem tidak bisa di ubah seperti motif parang barong atau motif truntum ya memang seperti itu, tidak bisa di rubah.
Sedangkan motif batik pengembangan bisa menyesuaikan dengan permintaan pasar , bila pasar menghendaki model atau motif batik milenial ya bisa saja.pungkasnya.(Ome)

